_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"www.dinaviriya.com","urls":{"Home":"http://www.dinaviriya.com","Category":"http://www.dinaviriya.com/36-strategi/","Archive":"http://www.dinaviriya.com/2017/09/","Post":"http://www.dinaviriya.com/pernyataan-menolak-dan-menyangkal-dalam-bahasa-mandarin/","Page":"http://www.dinaviriya.com/idiom-mandarin-cheng-yu/","Attachment":"http://www.dinaviriya.com/pernyataan-menolak-dan-menyangkal-dalam-bahasa-mandarin/pernyataan-menolak-dan-menyangkal-dalam-bahasa-mandarin/","Nav_menu_item":"http://www.dinaviriya.com/1357/","Wpcf7_contact_form":"http://www.dinaviriya.com/?post_type=wpcf7_contact_form&p=255","Insertpostads":"http://www.dinaviriya.com/insertpostads/native-ads-post/","Lh-multisite-ads":"http://www.dinaviriya.com/lh-multisite-ads/1647/"}}_ap_ufee

Cerita tentang Raksasa Nian

年兽Pada Zaman dulu, di daratan China terdapat sejenis Raksasa dinamakan oleh Masyarakat saat itu “Raksasa Nian [年兽]”. Wujud Raksasa Nian sangat ganas dan sifatnya sangat buas dan kejam. Tempat kediaman Raksasa Nian adalah di Hutan-hutan Pengunungan (ada juga versi yang menyebutkan di dasar laut). Makanannya adalah binatang-binatang liar, burung, serangga dan bahkan manusia juga. Setiap hari Raksasa Nian memakan berbagai jenis makanan yang berbeda-beda. Setiap kali Malam Tahun Baru Imlek, Raksasa tersebut akan turun dari pengunungan untuk memangsa Manusia sebagai makanannya.

Oleh karena itu, Setiap Malam Tahun Baru Imlek semua warga desa dan kampung mengungsi ke tempat yang aman agar dapat menghindari Raksasa Nian.

Pada suatu Malam Tahun Baru Imlek, warga desa bunga Persik (“Tao Hua Chun [桃花村]”) sudah mulai mengungsi, membawa seluruh anggota keluar ke daerah yang aman. Datanglah seorang Pria tua yang berasal dari desa lain untuk mengemis makanan. Berkumis putih dan panjang serta membawa kantong di lengannya dan tongkat di tangannya.

Warga-warga pada desa tersebut sangat sibuk menyiapkan diri untuk melakukan pengungsian. Ada yang tengah menutup pintu dan jendela, membungkus bekal makanan dan pakaian serta ada yang sedang mengurusi binatang-binatang peliharaannya. Suasana Panik dan Takut sangat terasa pada saat itu. Tidak ada orang yang menghiraukan kedatangan pengemis yang lanjut usia (lansia) tersebut.

Di bagian barat desa tersebut, terdapat seorang Wanita yang juga sudah berlanjut usia memberikan sedikit makanan kepada pria tua tersebut dan menasehatkannya untuk ikut mengungsi ke tempat yang aman. Pria pengemis tersebut senyum dan mengatakan kepada Wanita tersebut, jika anda mengijinkan saya untuk tinggal di rumahmu malam ini, saya akan mengusir Raksasa Nian dari Desa ini.

Tetapi Wanita tersebut tetap tidak percaya dan terus menasehatkannya untuk ikut mengungsi. Pria pengemis tersebut hanya tertawa tapi tidak mengatakan satu katapun. Karena waktu sudah tidak mengijinkannya lagi untuk berbicara banyak sehingga wanita tersebut meninggalkan Pria pengemis yang lanjut usia tersebut di rumahnya dan pergi mengungsi sendiri.

Tengah malam, Raksasa Nian benar-benar datang ke desa tersebut dan merasakan suasana yang berbeda pada tahun sebelumnya. Rumah Wanita lansia tersebut yang berada di bagian barat desa Tao Hua tertempel kertas Merah yang sangat besar di samping pintunya dan dalam rumahnya terang benderang. Tubuh Raksasa Nian bergetar dan menjerit dengan suara yang keras sekali.

Raksasa Nian melotot rumah tersebut dengan penuh kemarahan kemudian lari menuju ke rumah tersebut. Saat hampir mendekati rumah, terdengar suara “ping ping piang piang” seperti ada sesuatu yang meledak yang berasal dari halaman rumah Wanita lansia tersebut. Raksasa Nian gemetaran dan tidak lagi berani untuk mendekati rumah tersebut.

Rupanya, Raksasa Nian sangat takut akan warna Merah, cahaya api dan suara ledakan. Saat itu, Raksasa Nian yang berada di depan pintu rumah melihat seorang Pria Tua yang berjubah merah sedang tertawa.

Raksasa Nian sangat takut dan panik sehinggan dengan gerakan yang sangat cepat menghindari rumah tersebut dan melarikan diri dari desa tersebut.

Keesokan harinya, tepatnya hari pertama Tahun Baru Imlek, warga desa tersebut kembali dari pengungsiannya. Mereka sangat heran melihat desa tersebut aman dan tidak terjadi apa-apa. Tiba-tiba Wanita Lansia yang pernah memberikan makanan kepada pria pengemis tersebut menyadarinya dan segera menceritakan apa yang pernah terjadi pada dirinya mengenai janji pria pengemis tua tersebut. Warga desa tersebut segera menuju ke rumah wanita itu dan yang terlihat adalah Kertas Merah yang tertempel di pintu, di halaman rumah masih terdapat bambu yang belum habis terbakar dengan mengeluarkan bunyi “pa..pa…pa…”  seperti suara ledakan, di dalam rumah masih terdapat lilin merah yang masih menyala.

Melihat kondisi ini, Warga-warga Desa tersebut sangat senang dan ramai-ramai merayakan kedatangan Tahun Baru Imlek yang penuh harapan ini. Semuanya mengenakan pakaian baru, berkunjung ke rumah-rumah saudara dan teman untuk mengucapkan selamat. Berita tentang peristiwa ini sangat cepat beredar ke desa dan kampung-kampung sekitarnya, semua orang telah mengetahui cara untuk mengusir Raksasan Nian yang menakutkan ini.

Mulai saat itu, setiap Malam Tahun Baru imlek,  masing-masing rumah menempelkan sepasang puisi yang tertulis di kertas merah di samping pintu (“Tui Lian atau “Chun Lian”), menyalakan petasan, setiap rumah terang benderang dan tidak tidur pada malam Tahun Baru Imlek serta saling mengunjungi di hari pertama Tahun Baru. Tradisi tersebut kemudian menjadi Tradisi dalam merayakan Tahun Baru Imlek yang juga merupakan hari raya yang paling penting dalam masyarakat Tionghoa.

1 Comment on Cerita tentang Raksasa Nian

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*